jekigabriel@yahoo.co.id

Wednesday, May 30, 2012

Jeki Gabriel | 1
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pendidikan merupakan salah satu faktor terpenting dalam meningkatkan
SDM yang akan menopang gerak pembangunan. Dalam era reformasi yang diikuti
oleh pemberlakuan otonomi daearah berdasarkan Undang-Undang nomor 2 tahun
1999 serta Undang-undang nomor 25 tentang perimbangan keuangan pusat serta
PP Nomor 25 tahun 2000 yang mengatur pembagian kewenangan pemerintah
pusat dan propinsi. Pemeritah pusat hanya menangani penetapan standar
kompetensi siswa, pengaturan kurikulum nasional dan penilaian hasil belajar
nasional, penetapan standar materi pelajaran pokok, pedoman pembiayaan
pendidikan, persyaratan penerimaan, perpindahan dan sertivikasi siswa, kalender
pendidikan dan jumlah jam belajar efektif. Untuk propinsi, kewenangan terbatas
pada penetapan kebijakan tentang penerimaan siswa dari masyarakat minoritas,
terbelakang dan tidak mampu, dan penyediaan bantuan pengadaan buku mata
pelajaran pokok/modul pendidikan bagi siswa. Hal ini berdampak logis pada
kewenangan daerah yang semakin otonom, termasuk di dalamnya menyangkut
bidang pendidikan. Pendidikan yang sebelumnya dikelola oleh pusat (sentralisasi)
dikembalikan kepada daerah. Dengan kebijakan ekonomi makronya, memberikan
imbas terhadap otonomi sekolah sebagai sub sistem pendidikan nasional
mengharuskan pemerintah melakukan rekontruksi kebijakan dalam upaya
mengontrol peningkatan mutu, efisiensi dan relefansi pendidikan serta pemerataan
pelayanan pendidikan, upaya-upaya tersebut tercermin dalam tindakan berikut: 1.
Upaya peningkatan mutu dilakukan dengan menetapkan tujuan dan standar
pendidikan, yaitu melalui konsensus nasional. Standar kompetensi yang
Jeki Gabriel | 2
memungkinkan adanya perbedaan antar daerah akan menghasilkan standar
kompetensi nasional dalam tingkatan standar minimal, normal dan unggulan. 2.
Peningkatan efisiensi pengelolan pendidikan mengarah pada pengelolaan
pendidikan berbasis sekolah dengan memberi kepercayaan yang lebih luas kepada
sekolah untuk mengoptimalkan sumber daya yang ada. 3. Peningkatan relevansi
pendidikan mengarah pada pendidikan berbasis masyarakat serta orang tua dalam
level kebijakan dan level operasional melalui komite (dewan) sekolah. 4.
Pemerataan pelayanan pendidikan mengarah pada pendidikan yang berkeadilan
berkenaan dengan pengelolaan biaya pendidikan yang adil dan transparan.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas dapat dirumuskan masalah sebagai
berikut:
1. Apa yang dimaksud dengan perubahan pengolahan system pendidikan?
2. Bagaimana sejarah perubahan kurikulum pendidikan di Indonesia?
3. Bagaimana konsep dasar, dan prinsip manajemen pendidikan?
4. Bagaimana karakteristik dan ruang lingkup manajemen pendidikan?
5. Bagaimana perencanaan dan pengawasan pendidikan?
6. Bagaimana manajemen pendidikan disekolah?
7. Adakah pengaruh pengolahan manajemen pendidikan dengan peningkatan
mutu pendidikan
8. Bagaimana manajemen perpustakaan sekolah?
C. Tujuan
Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah untuk memenuhi salah satu tugas mata
kuliah Profesi Kependidikan. Selain itu untuk menambah wawasan dan
pengetahuan tentang tata cara mengolahan system pendidikan disekolah.
Jeki Gabriel | 3
D. Manfaat
Adapun manfaat yang ingin dicapai dalam penulisan makalah ini adalah penyusun
mengharapkan makalah ini dapat bermanfaat khususnya dalam bidang pendidikan
dan dapat menjadi bahan masukan, serta referensi bagi para pembaca. Selain itu
juga terciptanya suatu sifat kepedulian akan dunia pendidikan dan dapat ikut andil
dalam mengelolah sistem pendidikan.
E. Sistematika Penulisan
Bab I Pendahuluan
Bab II Pembahasan
Bab III Penutup
Jeki Gabriel | 4
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Perubahan Sistem Pengelolaan Pendidikan
Sebelum penulis memberikan pengertian secara keseluruhan, penulis
bermaksud menjabarkan kata demi kata akan Sistem Pengelolaan Pendidikan itu
sendiri.
1. Pengertian Perubahan
Perubahan adalah suatu realitas gerak dari suatu titik awal menuju sesuatu
yang baru.
Menurut Oxford Advanced Learner’s Dictionary Perubahan (change)
memiliki pengertian yakni:
a. Has a general use and describes any act of making something different.
b. The action or an instance of making or becoming different.
c. A variation in one’s routine,occupation surroundings, etc.
d. An act of going from one train or bus to another.
e. An act of replacing one thing with another.
f. A thing used in place of one another or other.
2. Pengertian Sistem
Terdapat tiga pengertian Sistem menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (
W.J.S. Poerwardarminta) yakni:
Jeki Gabriel | 5
a. Sekelompok bagian-bagian (alat dsb) yang bekerja bersama-sama untuk
melakukan sesuatu maksud.
b. Sekelompok dari pendapat, peristiwa, kepercayaan dan sebagainya yang
disusun dan diatur baik-baik.
c. Cara (metode) yang teratur untuk melakukan sesuatu.
Jadi, dapat disimpulkan bahwa sistem adalah satu kesatuan bagian yang utuh
yang diatur sedemikian baik yang tidak lepas satu sama lain dengan tujuan
untuk melakukan sesuatu.
3. Pengertian Pengelolaan
Pengelolaan berasal dari kata dasar kelola yang berarti mengurus atau
melakukan suatu pekerjaan rawat. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia
kelola, mengelola(kan) adalah mengurus, (perusahaan, pemerintah dsb);
melakukan (pekerjaan dsb); menyelenggarakan (perayaan dsb)
B. Sejarah Perubahan Kurikulum di Indonesia
Membentuk manusia yang good and smart adalah filosofi dasar pendidikan
menurut Socrates pada 2400 tahun yang lalu. Berbicara tentang pendidikan tidak
akan terlepas dari kegiatan belajar mengajar yang berlangsung di sekolah.
Kegiatan belajar mengajar tidak dapat terlepas dari kurikulum yang sedang berlaku
saat itu. Kurikulum merupakan salah satu hal yang cukup vital bagi dunia
pendidikan. Sejak Indonesia merdeka, kurikulum yang ada di Indonesia telah
mengalami perubahan beberapa kali.
Jeki Gabriel | 6
Sumarsono dalama makalahnya yang berjudul Perjalanan Kurikulum di Indonesia
menjelaskan bahwa perjalanan sejarah sejak tahun 1945, kurikulum pendidikan
nasional telah mengalami perubahan, yaitu pada tahun 1947, 1952, 1964, 1968,
1975, 1984, 1994, 2004 dan 2006. Perubahan tersebut merupakan konsekuensi
logis dari terjadinya perubahan sistem politik, sosial budaya, ekonomi, dan iptek
dalam masyarakat berbangsa dan bernegara. Sebab, kurikulum sebagai seperangkat
rencana pendidikan perlu dikembangkan secara dinamis sesuai dengan tuntutan
dan perubahan yang terjadi dimasyarakat. Perubahan-perubahan yang terjadi
tersebut dimaksudkan untuk membuat sistem pendidikan di Indonesia semakin
membaik, namun apakah sistem pendidikan di Indonesia saat ini telah sesuai
dengan tujuan pendidikan?
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi perubahan kurikulum, antara
lain:
1. Bebasnya sejumlah wilayah tertentu di dunia dari cengkraman penjajahan.
Dengan kata lain merdekanya suatu bangsa dari negara lain. Dengan
merdekanya negara tersebut, mereka menyadari bahwa sistem pendidikan
selama ini tidak sesuai dengan cita-cita nasional mereka. Contohnya
adalah negara Indonesia yang bebas dari belenggu penjajahan Belanda.
Dengan merdekanya Indonesia, maka indonesia membuat system
pendidikan tersendiri.
2. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang pesat.
3. Pertumbuhan pesat pendidikan dunia.
Jeki Gabriel | 7
Dengan bertambahnya penduduk makin bertambah pula jumlah orang
yang membutuhkan pendidikan. Hal ini menyebabkan bahwa cara atau
pendekatan yang telah digunakan selama ini perlu ditinjau kembali.
(Hendyat Sopetope dan Wasty Soemanto, 1993:41-41)
Berikut ini adalah perjalanan kurikulum di Indonesia.
 Kurikulum 1947 - Kurikulum Rentjana Pelajaran 1947
Pada tahun 1947, kurikulum saat itu diberi nama Rentjana Pelajaran 1947.
Pada saat itu, kurikulum pendidikan di Indonesia masih dipengaruhi sistem
pendidikan kolonial Belanda dan Jepang, sehingga hanya meneruskan yang
pernah digunakan sebelumnya. Rentjana Pelajaran 1947 boleh dikatakan
sebagai pengganti sistem pendidikan kolonial Belanda. Karena suasana
kehidupan berbangsa saat itu masih dalam semangat juang merebut
kemerdekaan maka pendidikan sebagai development conformism lebih
menekankan pada pembentukan karakter manusia Indonesia yang merdeka
dan berdaulat dan sejajar dengan bangsa lain dimuka bumi ini.
 Kurikulum 1952 - Kurikulum Rentjana Pelajaran Terurai 1952
Pada tahun 1952 kurikulum di Indonesia mengalami penyempurnaan. Pada
tahun 1952 ini diberi nama Rentjana Pelajaran Terurai 1952. Kurikulum ini
sudah mengarah pada suatu sistem pendidikan nasional. Yang paling
menonjol dan sekaligus ciri dari kurikulum 1952 ini bahwa setiap rencana
pelajaran harus memperhatikan isi pelajaran yang dihubungkan dengan
kehidupan sehari-hari.
Jeki Gabriel | 8
 Kurikulum 1964 - Kurikulum Rentjana Pendidikan 1964
Menjelang tahun 1964, pemerintah kembali menyempurnakan sistem
kurikulum di Indonesia. Kali ini diberi nama Rentjana Pendidikan 1964.
Pokok-pokok pikiran kurikulum 1964 yang menjadi ciri dari kurikulum ini
adalah bahwa pemerintah mempunyai keinginan agar rakyat mendapat
pengetahuan akademik untuk pembekalan pada jenjang SD, sehingga
pembelajaran dipusatkan pada program Pancawardhana, yaitu pengembangan
moral, kecerdasan, emosional/artistik, dan jasmani.
 Kurikulum 1968 – Pembaharuan Kurikulum 1964
Kurikulum 1968 merupakan pembaharuan dari Kurikulum 1964, yaitu
dilakukannya perubahan struktur kurikulum pendidikan dari Pancawardhana
menjadi pembinaan jiwa pancasila, pengetahuan dasar, dan kecakapan
khusus. Kurikulum 1968 merupakan perwujudan dari perubahan orientasi
pada pelaksanaan UUD 1945 secara murni dan konsekuen.
Dari segi tujuan pendidikan, Kurikulum 1968 bertujuan bahwa pendidikan
ditekankan pada upaya untuk membentuk manusia Pancasila sejati, kuat, dan
sehat jasmani, mempertinggi kecerdasan dan keterampilan jasmani, moral,
budi pekerti, dan keyakinan beragama. Isi pendidikan diarahkan pada
kegiatan mempertinggi kecerdasan dan keterampilan, serta mengembangkan
fisik yang sehat dan kuat.
 Kurikulum 1975 – Pengganti Kurikulum 1968
Kurikulum 1975 sebagai pengganti kurikulum 1968 menggunakan
pendekatan-pendekatan di antaranya sebagai berikut.
• Berorientasi pada tujuan
Jeki Gabriel | 9
• Menganut pendekatan integrative dalam arti bahwa setiap pelajaran
memiliki arti dan peranan yang menunjang kepada tercapainya tujuantujuan
yang lebih integratif.
• Menekankan kepada efisiensi dan efektivitas dalam hal daya dan waktu.
• Menganut pendekatan sistem instruksional yang dikenal dengan Prosedur
Pengembangan Sistem Instruksional (PPSI). Sistem yang senantiasa
mengarah kepada tercapainya tujuan yang spesifik, dapat diukur dan di
rumuskan dalam bentuk tingkah laku siswa.
• Dipengaruhi psikologi tingkah laku dengan menekankan kepada stimulus
respon (rangsang-jawab) dan latihan (drill).
 Kurikulum 1984 - Kurikulum cara belajar siswa aktif (CBSA).
Kurikulum 1984 tampil sebagai perbaikan atau revisi terhadap kurikulum
1975.
Kurikulum 1984 bmemiliki ciri-ciri sebagai berikut:
• Berorientasi kepada tujuan instrpemberian pengalaman belajar kepada
siswa dalam waktu belajar yang sangat terbatas di sekolah harus benarbenar
fungsional dan efektif. Oleh karena itu, sebelum memilih atau
menentukan bahan ajar, yang pertama harus dirumuskan adalah tujuan
apa yang harus dicapai siswa.
• Pendekatan pengajarannya berpusat pada anak didik melalui cara belajar
siswa aktif (CBSA). CBSA adalah pendekatan pengajaran yang
memberikan kesempatan kepada siswa untuk aktif terlibat secara fisik,
mental, intelektual, dan emosional dengan harapan siswa memperoleh
Jeki Gabriel | 10
pengalaman belajar secara maksimal, baik dalam ranah kognitif, afektif,
maupun psikomotor.
• Materi pelajaran dikemas dengan nenggunakan pendekatan spiral. Spiral
adalah pendekatan yang digunakan dalam pengemasan bahan ajar
berdasarkan kedalaman dan keluasan materi pelajaran. Semakin tinggi
kelas dan jenjang sekolah, semakin dalam dan luas materi pelajaran yang
diberikan.
• Menanamkan pengertian terlebih dahulu sebelum diberikan latihan.
Konsep-konsep yang dipelajari siswa harus didasarkan kepada
pengertian, baru kemudian diberikan latihan setelah mengerti. Untuk
menunjang pengertian alat peraga sebagai media digunakan untuk
membantu siswa memahami konsep yang dipelajarinya.
• Materi disajikan berdasarkan tingkat kesiapan atau kematangan siswa.
Pemberian materi pelajaran berdasarkan tingkat kematangan mental
siswa dan penyajian pada jenjang sekolah dasar harus melalui pendekatan
konkret, semikonkret, semiabstrak, dan abstrak dengan menggunakan
pendekatan induktif dari contoh-contoh ke kesimpulan. Dari yang mudah
menuju ke sukar dan dari sederhana menuju ke kompleks.
• Menggunakan pendekatan keterampilan proses. Keterampilan proses
adalah pendekatan belajat mengajar yang memberi tekanan kepada proses
pembentukkan keterampilan memperoleh pengetahuan dan
mengkomunikasikan perolehannya. Pendekatan keterampilan proses
Jeki Gabriel | 11
diupayakan dilakukan secara efektif dan efesien dalam mencapai tujuan
pelajaran.
Karakteristik sekolah CBSA (Cara Belajar Siswa Aktif);
- Pembelajaran yang lebih berpusat pada siswa, sehingga siswa berperan
lebih aktif dengan mengembangkan cara-cara belajar mandiri, siswa
berperan serta pada perencanaan, pelaksanaan, penilaian proses
belajar, pengalaman siswa lebih diutamakan dalam memutuskan titik
tolak kegiatan.
- Guru adalah pembimbing dalam terjadinya pengalaman belajar. Guru
merupakan salah satu sumber belajar. Dengan demikian siswa lebih
berpeluang untuk mencari pengetahuan/keterampilan dengan usaha
sendiri.
- Tujuan kegiatan tidak hanya untuk sekedar mengejar standar akademis
selain kegiatan ditekankan untuk mengembangkan kemampuan siswa
secara utuh.
- Pengelolaan kegiatan pembelajaran lebih menekankan pada kreativitas
siswa dan memperhatikan kemajuan siswa untuk menguasai konsepkonsep
dengan mantap.
- Penilaian, dilaksanakan untuk mengamati dan mengukur kegiatan dan
kemjuan siswa, serta mengukur berbagai kegiatan/keterampilan yang
dikembangkan misalnya berbahasa. (Dimyati dan Mudjiono,
2006:117-118)
Jeki Gabriel | 12
 Kurikulum 1994 – Penyempurnaan Kurikulum 1984
Kurikulum 1994 dibuat sebagai penyempurnaan kurikulum 1984 dan
dilaksanakan sesuai dengan Undang-Undang no. 2 tahun 1989 tentang Sistem
Pendidikan Nasional. Hal ini berdampak pada sistem pembagian waktu
pelajaran, yaitu dengan mengubah dari sistem semester ke sistem caturwulan.
Dengan sistem caturwulan yang pembagiannya dalam satu tahun menjadi
tiga tahap diharapkan dapat memberi kesempatan bagi siswa untuk dapat
menerima materi pelajaran cukup banyak.
Terdapat ciri-ciri yang menonjol dari pemberlakuan kurikulum 1994, di
antaranya sebagai berikut.
• Pembagian tahapan pelajaran di sekolah dengan sistem caturwulan
• Pembelajaran di sekolah lebih menekankan materi pelajaran yang cukup
padat (berorientasi kepada materi pelajaran/isi)
• Kurikulum 1994 bersifat populis, yaitu yang memberlakukan satu system
kurikulum untuk semua siswa di seluruh Indonesia. Kurikulum ini
bersifat kurikulum inti sehingga daerah yang khusus dapat
mengembangkan pengajaran sendiri disesuaikan dengan lingkungan dan
kebutuhan masyarakat sekitar.
• Dalam pelaksanaan kegiatan, guru hendaknya memilih dan menggunakan
strategi yang melibatkan siswa aktif dalam belajar, baik secara mental,
fisik, dan sosial. Dalam mengaktifkan siswa guru dapat memberikan
bentuk soal yang mengarah kepada jawaban konvergen, divergen
(terbuka, dimungkinkan lebih dari satu jawaban), dan penyelidikan.
• Dalam pengajaran suatu mata pelajaran hendaknya disesuaikan dengan
Jeki Gabriel | 13
kekhasan konsep/pokok bahasan dan perkembangan berpikir siswa,
sehingga diharapkan akan terdapat keserasian antara pengajaran yang
menekankan pada pemahaman konsep dan pengajaran yang menekankan
keterampilan menyelesaikan soal dan pemecahan masalah.
• Pengajaran dari hal yang konkrit ke hal yang abstrak, dari hal yang mudah
ke hal yang sulit, dan dari hal yang sederhana ke hal yang komplek.
• Pengulangan-pengulangan materi yang dianggap sulit perlu dilakukan
untuk pemantapan pemahaman siswa.
Selama dilaksanakannya kurikulum 1994 muncul beberapa permasalahan,
terutama sebagai akibat dari kecenderungan kepada pendekatan penguasaan
materi (content oriented), di antaranya sebagai berikut:
• Beban belajar siswa terlalu berat karena banyaknya mata pelajaran dan
banyaknya materi/substansi setiap mata pelajaran.
• Materi pelajaran dianggap terlalu sukar karena kurang relevan dengan
Tingkat perkembangan berpikir siswa, dan kurang bermakna karena
kurang terkait dengan aplikasi kehidupan sehari-hari.
 Kurikulum 2004 – KBK (Kurikulum Berbasis Kompetensi)
Siskandar (mantan kepala pusat kurikulum Depdiknas) menjelaskan
bahwa KBK adalah pengembangan kurikulum yang bertitik tolak dari
kompetisi yang seharusnya dimiliki siswa setelah menyelesaikan pendidikan,
yang meliputi pengetahuan, keterampilan, nilai dan pola berpikir serta
bertindak sebagai reflesi dari pemahaman dan penghayatan dari apa yang
Jeki Gabriel | 14
dipelajari siswa. Menurut Abdurrahma Saleh, KBK adalah perangkat standar
program pendidikan yang dapat mengantarkan siswa untuk menjadi
kompeten dalam berbagai bidang kehidupan yang dipelajarinya. Dilihat dari
pengertian dua orang tokoh pendidikan ini, jelas bahwa Kurikulum Berbasis
Kompetensi lebih menekankan “kompetensi”. Lebih lanjut, kompetensi yang
dimaksud adalah pengetahuan, keterampilan dan nilai-nilai yang direflesikan
dalam kebiasaan berfikir dan bertindak. (Dede Rosyada, 2004:47)
Pada kurikulum tahun 1994 dan sebelumnya rumusan kompetensi
diformat dalam bentuk rumusan tujuan, yang disusun secara hirarkis dari
tujuan nasional, institusional, tujuan kurikulum, tujuan pembelajaran umum
dan khusus. Kurikulum 1994 perlu disempurnakan lagi sebagai respon
terhadap perubahan struktural dalam pemerintahan dari sentralistik menjadi
desentralistik sebagai konsekuensi logis dilaksanakannya UU No. 22 dan 25
tahun 1999 tentang Otonomi Daerah. Kurikukum yang dikembangkan saat
itu diberi nama Kurikulum Berbasis Kompetensi. Pendidikan berbasis
kompetensi menitikberatkan pada pengembangan kemampuan untuk
melakukan (kompetensi) tugas-tugas tertentu sesuai dengan standar
performance yang telah ditetapkan. “Competency Based Education is
education geared toward preparing indivisuals to perform identified
competencies” (Scharg dalam Hamalik, 2000: 89). Hal ini mengandung arti
bahwa pendidikan mengacu pada upaya penyiapan individu yang mampu
melakukan perangkat kompetensi yang telah ditentukan. Implikasinya adalah
perlu dikembangkan suatu kurikulum berbasis kompetensi sebagai pedoman
pembelajaran.
Jeki Gabriel | 15
Kurikulum Berbasis Kompetensi merupakan perangkat rencana dan
pengaturan tentang kompetensi dan hasil belajar yang harus dicapai siswa,
penilaian, kegiatan belajar mengajar, dan pemberdayaan sumber daya
pendidikan dalam pengembangan kurikulum sekolah. Kurikulum Berbasis
Kompetensi berorientasi pada:
(1) Hasil dan dampak yang diharapkan muncul pada diri peserta didik
melalui serangkaian pengalaman belajar yang bermakna, dan
(2) Keberagaman yang dapat dimanifestasikan sesuai dengan kebutuhannya
(Puskur, 2002a).
Kurikulum Berbasis Kompetensi memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
• Menekankan pada ketercapaian kompetensi siswa baik secara individual
maupun klasikal.
• Berorientasi pada hasil belajar (learning outcomes) dan keberagaman.
• Penyampaian dalam pembelajaran menggunakan pendekatan dan metode
yang bervariasi.
• Sumber belajar bukan hanya guru, tetapi juga sumber belajar lainnya yang
memenuhi unsur edukatif.
• Penilaian menekankan pada proses dan hasil belajar dalam upaya
penguasaan atau pencapaian suatu kompetensi.
 Kurikulum 2006 - KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan)
KTSP adalah kurikulum operasional yang disusun oleh dan dilaksanakan
dimasing-masing satuan pendidikan (sekolah). KTSP terdiri dari; (1) tujuan
Jeki Gabriel | 16
pendidikan tingkat satuan pendidikan, (2) struktur dan muatan kurikulum
tingkat satuan pendidikan, (3) kalender pendidikan dan silabus.
Pengembangan KTSP yang beragam mengacu kepada standar nasional
pendidikan untuk menjalin tujuan pendidikan nasional. (Sri Sulistyorini,
2007:21-22)
Implementasi Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem
Pendidikan Nasional dijabarkan ke dalam sejumlah peraturan antara lain
Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional
Pendidikan. Peraturan Pemerintah ini memberikan arahan tentang perlunya
disusun dan dilaksanakan delapan standar nasional pendidikan, yaitu:
(1) Standar isi,
(2) Standar proses,
(3) Standar kompetensi lulusan,
(4) Standar pendidik dan tenaga kependidikan,
(5) Standar sarana dan prasarana,
(6) Standar pengelolaan, standar pembiayaan, dan
(7) Standar penilaian pendidikan.
Kurikulum dipahami sebagai seperangkat rencana dan pengaturan mengenai
tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman
penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan
tertentu, maka dengan terbitnya Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005,
pemerintah telah menggiring pelaku pendidikan untuk mengimplementasikan
Jeki Gabriel | 17
kurikulum dalam bentuk kurikulum tingkat satuan pendidikan, yaitu kurikulum
operasional yang disusun oleh dan dilaksanakan di setiap satuan pendidikan.
Secara substansial, pemberlakuan (baca: penamaan) Kurikulum Tingkat Satuan
Pendidikan (KTSP) lebih kepada mengimplementasikan regulasi yang ada, yaitu
PP No. 19/2005. Akan tetapi, esensi isi dan arah pengembangan pembelajaran
tetap masih bercirikan tercapainya paket-paket kompetensi (dan bukan pada
tuntas tidaknya sebuah subject matter). Sumber belajar bukan hanya guru, tetapi
juga sumber belajar lainnya yang memenuhi unsur edukatif. Penilaian
menekankan pada proses dan hasil belajar dalam upaya penguasaan atau
pencapaian suatu kompetensi.
Terdapat perbedaan mendasar dibandingkan dengan kurikulum berbasis
kompetensi sebelumnya (versi 2002 dan 2004), bahwa sekolah diberi kewenangan
penuh menyusun rencana pendidikannya dengan mengacu pada standar-standar
yang telah ditetapkan, mulai dari tujuan, visi – misi, struktur dan muatan
kurikulum, beban belajar, kalender pendidikan, hingga pengembangan silabusnya.
C. Konsep Dasar dan Prinsip Manajemen Pendidikan
1. Konsep Dasar Manajemen Pendidikan
a. Kerangka Konsep
Shrode Dan Voich (1986) menyatakan bahwa Kerangka dasar
manajemen meliputi “Philosophy, Asumiious, Principles, and Theory, Whivh
are basic to the study of any disclipline of management”. Secara sederhana
Jeki Gabriel | 18
dikatakan bahwa falsafah merupakan pandangan atau persepsi tentang
kebenaran yang dikembangkan dari berpikir praktis. Bagi seorang manajer
falsafah merupakan cara berpikir yang telah terkondisikan dengan
lingkungan. Perangkat organisasi, nilai-nilai dan keyakinan yang mendasari
tanggung jawab seorang manajer. Falsafah seorang manajer dijadikan dasar
untuk membuat asumsi-asumsi tentang lingkungan, peran organisasinya, dan
atau garis besar untuk bertindak. Seperangkat prinsip yang berkaitan satu
sama lain dikembangkan dan diuji dengan pengalaman sebelum menjadi
suatu teori. Untuk seorang manajer, suatu teori tentang manajemen sangat
berfungsi dalam memecahkan masalah-masalah yang timbul. Oleh karena
itu, falsafah, asumsi, prinsip-prinsip, dan teori tentang merupakan landasan
manajerial yang harus dipahami dan dihayati oleh dan prinsip serta teoriteori
dijadikan dasar kegiatan manajerial.
b. Deskripsi Konsep
Setiap jenis pengetahuan termasuk pengetahuan manajemen mempunyai
ciri-ciri yang spesifik mengenai apa, bagaimana, dan untuk apa pengetahuan
manajemen tersebut disusun. Di dalam pengatahuan manajemen, falsafah
pada hakekatnya menyediakan seperangkat pengetahuan untuk berpikir
efektif dalam memecahkan masalah-masalah manajemen. Ini merupakan
hakikat manajemen sebagai suatu disiplin ilmu dalam mengatasi masalah
organisasi berdasarkan pendekatan yang intelegen. Bagi seorang manajer
perlu pengetahuan tentang kebenaran manajeman, asumsi yang telah diakui,
dan nilai-nilai yang telah ditentukan. Pada akhirnya semua itu akan
memberikan kepuasan dalam melakukan pendekatan yang sistematik dalam
praktek manajerial.
Jeki Gabriel | 19
Teori manajemen mempunyai peran atau membantu menjelaskan
perilaku organisasi yang berkaitan dengan motivasi, produktivitas dan
kepuasan. Di dalam proses manajemen digambarkan fungsi-fungsi
manajemen secara umum yang ditampilkan ke dalam perangkat organisasi
dan mulai dikenal sebagai teori manajemen klasik. Menurut teori klasik
pilar-pilar manajemen klasik terdiri dari 4 pilar, yaitu: pembagian kerja,
proses saklar fungsi-fungsi, struktur, rentang pengawasan. Para ahli
banyak yang akan mengatakan bahwa manajemen belum mempunyai teori
yang standar, tetapi sebagai pendekatan.
c. Konsep Manajemen
Dari segi bahasa manajemen berasal dari kata manage (to manage) yang
berarti “to conduct or to carry on, to direct” (Webster Super New School
and Office Dictionary), dalam Kamus Inggeris Indonesia kata Manage
diartikan “Mengurus, mengatur, melaksanakan, mengelola”(John M. Echols,
Hasan Shadily, Kamus Inggeris Indonesia) , Oxford Advanced Learner’s
Dictionary mengartikan ‘to Manage’ sebagai “to succed in doing something
especially something difficult….. Management the act of running and
controlling business or similar organization” sementara itu dalam Kamus
Besar Bahasa Indonesia ‘Manajemen’ diartikan sebagai “Proses penggunaan
sumberdaya secara efektif untuk mencapai sasaran”(Kamus Besar Bahasa
Indonesia). Adapun dari segi Istilah telah banyak para ahli telah memberikan
pengertian manajemen, dengan formulasi yang berbeda-beda, berikut ini
akan dikemukakan beberapa pengertian manajemen guna memperoleh
pemahaman yang lebih jelas.
Pendapat Pakar tentang Manajemen:
No Pengertian manajemen Pendapat
1. The most comporehensive definition views
manajemen as an integrating process by
which authorized individual create,
(Lester Robert Bittel
(Ed), 1978 : 640)
Jeki Gabriel | 20
No Pengertian manajemen Pendapat
maintain, and operate an organization in the
selection an accomplishment of it’s aims
2. Manajemen itu adalah pengendalian dan
pemanfaatan daripada semua faktor dan
sumberdaya, yang menurut suatu
perencanaan (planning), diperlukan untuk
mencapai atau menyelesaikan suatu prapta
atau tujuan kerja yang tertentu
(Prajudi
Atmosudirdjo,1982 :
124)
3. Manajemen is the use of people and other
resources to accomplish objective
( Boone& Kurtz.
1984 : 4)
4. .. manajemen-the function of getting things
done through people
(Harold Koontz,
Cyril O’Donnel:3)
5. Manajemen merupakan sebuah proses yang
khas, yang terdiri dari tindsakan-tindakan :
Perencanaan, pengorganisasian,
menggerakan, dan poengawasan, yang
dilakukan untuk menentukan serta
mencapai sasaran-sasaran yang telah
ditetapkan melalui pemanfaatan
sumberdaya manusia serta sumber-sumber
lain
(George R. Terry,
1986:4)
6. Manajemen dapat didefinisikan sebagai
‘kemampuan atau ketrampilan untuk
memperoleh sesuatu hasil dalam rangka
pencapaian tujuan melalui kegiatankegiatan
orang lain’. Dengan demikian
dapat pula dikatakan bahwa manajemen
merupakan alat pelaksana utama
administrasi
(Sondang P. Siagian.
1997 : 5)
Jeki Gabriel | 21
No Pengertian manajemen Pendapat
7. Manajemen is the process of efficiently
achieving the objectives of the organization
with and through people
De Cenzo&Robbin
1999:5
Dengan memperhatikan beberapa definisi di atas nampak jelas bahwa
perbedaan formulasi hanya dikarenakan titik tekan yang berbeda namun
prinsip dasarnya sama, yakni bahwa seluruh aktivitas yang dilakukan
adalah dalam rangka mencapai suatu tujuan dengan memanfaatkan seluruh
sumberdaya yang ada. Beberapa prinsip yang nampaknya menjadi benang
merah tentang pengertian manajemen yakni :
1. Manajemen merupakan suatu kegiatan
2. Manajemen menggunakan atau memanfaatkan pihak-pihak lain
3. Kegiatan manajemen diarahkan untuk mencapai suatu tujuan tertentu.
Setelah melihat pengertian manajemen, maka nampak jelas bahwa
setiap organisasi termasuk organisasi pendidikan seperti Sekolah akan
sangat memerlukan manajemen untuk mengatur/mengelola kerjasama
yang terjadi agar dapat berjalan dengan baik dalam pencapaian tujuan,
untuk itu pengelolaannya mesti berjalan secara sistematis melalui tahapantahapan
dengan diawali oleh suatu rencana sampai tahapan berikutnya
dengan menunjukan suatu keterpaduan dalam prosesnya, dengan
mengingat hal itu, maka makna pentingnya manajemen semakin jelas bagi
kehidupan manusia termasuk bidang pendidikan.
 Pendapat Pakar tentang manajemen Pendidikan
No Pengertian manajemen Pendidikan Pendapat
1. Administrasi pendidikan dapat diartikan
sebagai keseluruhan proses kerjasama dengan
Djam’an Satori,
(1980: 4)
Jeki Gabriel | 22
No Pengertian manajemen Pendidikan Pendapat
memanfaatkan semua sumber personil dan
materil yang tersedia dan sesuai untuk
mencapai tujuan pendidikan yang telah
ditetapkan secara efektif dan efisien…
2. Dalam pendidikan, manajemen itu dapat
diartikan sebagai aktivitas memadukan
sumber-sumber pendidikan agar terpusat
dalam usaha mencapai tujuan pendidikan
yang telah ditentukan sebelumnya
Made Pidarta,
(1988:4)
3. Manajemen pendidikan ialah proses
perencanaan, peng-organisasian, memimpin,
mengendalikan tenaga pendidikan, sumber
daya pendidikan untuk mencapai tujuan
pendidikan, mencerdaskan kehidupan bangsa,
mengembangkan manusia seutuhnya, yaitu
manusia yang beriman, bertakwa kepada
Tuhan Yang Maha Esa, berbudi pekerti yang
luhur, memiliki pengetahuan, keterampilan,
kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian
yang mantap, mandiri, serta bertanggung
jawab kemasyarakat dan kebangsaan
Biro
Perencanaan
Depdikbud,
(1993:4)
4. educational administration is a social process
that take place within the context of social
system
Castetter.
(1996:198)
5. Manajemen pendidikan dapat didefinisikan
sebagi proses perencanaan, pengorganisasian,
memimpin, mengendalikan tenaga
pendidikan, sumber daya pendidikan untuk
mencapai tujuan pendidikan…
Soebagio
Atmodiwirio.
(2000:23)
6. Manajemen pendidikan ialah suatu ilmu yang Engkoswara
Jeki Gabriel | 23
No Pengertian manajemen Pendidikan Pendapat
mempelajari bagaimana menata sumber daya
untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan
secara produktif dan bagaimana menciptakan
suasana yang baik bagi manusia yang turut
serta di dalam mencapai tujuan yang
disepakati bersama
(2001:2)
Dengan memperhatikan pengertian di atas nampak bahwa manajemen
pendidikan pada prinsipnya merupakan suatu bentuk penerapan
manajemen atau administrasi dalam mengelola, mengatur dan
mengalokasikan sumber daya yang terdapat dalam dunia pendidikan,
fungsi administrasi pendidikan merupakan alat untuk mengintegrasikan
peranan seluruh sumberdaya guna tercapainya tujuan pendidikan dalam
suatu konteks sosial tertentu, ini berarti bahwa bidang-bidang yang
dikelola mempunyai kekhususan yang berbeda dari manajemen dalam
bidang lain.
2. Prinsip Manajemen Pendidikan
Prinsip – prinsip Manajemen pendidikan :
1) Prinsip Manajemen Pendidikan yang berorientasi pada tujuan, dengan
menetapkan tujuan – tujuan yang harus dicapai peserta didik dalam
mempelajari pelajaran.
2) Prinsip Manajemen pada efisiensi dan efektifitas dalam pengunaan dana,
daya, dan waktu dalam mencapai tujuan pendidikan.
3) Prinsip Manajemen pendidikan pada fleksibilitas program, dalam
pelaksanaan, suatu program hendaknya mempertimbangkan faktor –
faktor ekosistem dan kemampuan penyediaan fasilitas yang menunjang.
4) Prinsip kontinuitas, dengan menyiapkan peserta handal dan siap pakai
sehingga mampu melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi.
Jeki Gabriel | 24
5) Prinsip pendidikan seumur hidup, yang memandang bahwa pendidikan
tidak hanya di sekolah, tetapi harus dilanjutkan dalam keluarga dan
masyarakat. Jadi peserta didik perlu memiliki kemampuan belajar sebagai
persiapan belajar di masyarakat.
6) Prinsip relevansi, suatu pendidikan akan bermakna apabila kurikulum
yang dipergunakan relevan (terkait) dengan kebutuhan dan tuntutan
masyarakat.
D. Karakteristik dan Ruang Lingkup Manajemen Pendidikan
1. Karakteristik Manajemen Pendidikan
Karakteristik manajemen pendidikan sekolah meliputi:
1. Perencanaan dan pengembangan sekolah;
2. Iklim budaya sekolah;
3. Harapan yang tinggi untuk berprestasi;
4. Pemantauan terhadap kemajuan sekolah;
5. Kepemimpinan kepala sekolah;
6. Pengembangan guru dan staf;
7. Penguatan kapasitas sekolah;
8. Keterlibatan orang tua dan masyarakat;
9. Keterlibatan dan tanggung jawab siswa;
10. Penghargaan dan intensif;
11. Tata tertib dan kedisiplinan.
2. Ruang Lingkup Manajemen Pendidikan
Menurut Engkoswara (2001:2) wilayah kerja manajemen pendidikan dapat
digambarkan secara skematik sebagai berikut :
Perorangan
Garapan
Fungsi
SDM SB SFD
Jeki Gabriel | 25
Perencanaan TPP
Pelaksanaan
Pengawasan
Kelembagaan
Gambar di atas menunjukan suatu kombinasi antara fungsi manajemen
dengan bidang garapan yakni sumber Daya manusia (SDM), Sumber Belajar
(SB), dan Sumber Fasilitas dan Dana (SFD). Sehingga tergambar apa yang
sedang dikerjakan dalam konteks manajemen pendidikan dalam upaya untuk
mencapai Tujuan Pendidikan secara Produktif (TPP) baik untuk perorangan
maupun kelembagaan Lembaga pendidikan seperti organisasi sekolah
merupakan kerangka kelembagaan dimana administrasi pendidikan dapat
berperan dalam mengelola organisasi untuk mencapai tujuan yang telah
ditetapkan. Dilihat dari tingkatan-tingkatan suatu organisasi dalam hal ini
sekolah, administrasi pendidikan dapat dilihat dalam tiga tingkatan yaitu
tingkatan institusi (Institutional level), tingkatan manajerial (managerial
level), dan tingkatan teknis (technical level) (Murphy dan Louis, 1999).
Tingkatan institusi berkaitan dengan hubungan antara lembaga pendidikan
(sekolah) dengan lingkungan eksternal, tingkatan manajerial berkaitan dengan
kepemimpinan, dan organisasi lembaga (sekolah), dan tingkatan teknis
berkaitan dengan proses pembelajaran. Dengan demikian manajemen
pendidikan dalam konteks kelembagaan pendidikan mempunyai cakupan yang
luas, disamping itu bidang-bidang yang harus ditanganinya juga cukup banyak
dan kompleks dari mulai sumberdaya fisik, keuangan, dan manusia yang
terlibat dalam kegiatan proses pendidikan di sekolah.
Menurut Consortium on Renewing Education (Murphy dan Louis, ed.
1999:515) Sekolah (lembaga pendidikan) mempunyai lima bentuk modal yang
perlu dikelola untuk keberhasilan pendidikan yaitu:
Jeki Gabriel | 26
1. Integrative capital (modal integrative) adalah modal yang berkaitan
dengan pengintegrasian empat modal lainnya untuk dapat dimanfaatkan
bagi pencapaian program/tujuan pendidikan.
2. Human capital (modal manusia) adalah sumberdaya manusia yang
kemampuan untuk menggunakan pengetahuan bagi kepentingan proses
pendidikan/pembelajaran.
3. Financial capital (modal keuangan) adalah dana yang diperlukan untuk
menjalankan dan memperbaiki proses pendidikan. Modal sosial adalah
ikatan kepercayaan
4. Social capital (modal social) adalah ikatan kepercayaan dan kebiasaan
yang menggambarkan sekolah sebagai komunitas.
5. Political capital (modal politik) adalah dasar otoritas legal yang dimiliki
untuk melakukan proses pendidikan/pembelajaran.
Dengan pemahaman sebagaimana dikemukakan di atas, nampak bahwa salah
satu fungsi penting dari manajemen pendidikan adalah berkaitan dengan
proses pembelajaran, hal ini mencakup dari mulai aspek persiapan sampai
dengan evaluasi untuk melihat kualitas dari suatu proses tersebut, dalam
hubungan ini Sekolah sebagai suatu lembaga pendidikan yang melakukan
kegiatan/proses pembelajaran jelas perlu mengelola kegiatan tersebut dengan
baik karena proses belajar mengajar ini merupakan kegiatan utama dari suatu
sekolah (Hoy dan Miskel 2001).
E. Perancanaan dan Pengawasan pendidikan
A. Perencanaan Pendidikan
Perencanaan pendidikan disusun secara bertahap, yang meliputi:
a. Pencanaan pendidikan yang menyeluruh yang berskala nasional untuk
mencapai tujuan pendidikan nasional sesuai dengan rumusan tujuan
pendidikan nasional yang telah digariskan dalam sistem pendidikan
Jeki Gabriel | 27
nasional. Perencanaan pada tahap ini menjadi dasar dalam rangka
penyusunan perencanaan pendidikan jangka panjang.
b. Perencanaan pendidikan jangka panjang, misalnya untuk jangka selama
satu pelita. Perencanaan ini tergolong sebagai perencanaan pendidikan
bertingkat strategis.
c. Perencanaan pendidikan tingkat medium yang berjangka sedang dalam
jangka waktu yang relatif pendek misalnya untuk jangka satu tahun atau
dua tahun pertama dari pelita.
d. Perencanaan pendidikan bertingkat operasional, yang berjangka pendek,
misalnya dalam jangka satu tahun/2 tahun semester. Perencanaan
pendidikan ini umumnya dilaksanakan pada tingkat wilayah dan
kelembagaan pendidikan.
B. Kontrol (Pengawasan) Pendidikan
Fungsi kontrol (pengawasan pendidikan) sangat penting, karena erat
kaitannya dengan pelaksanaan dan hasil yang diharapkan oleh sistem
pendidikan. Peranan dan kategori kontrol yang telah dikemukakan secara
singkat dalam uraian di muka, kiranya mengandung implikasi tertentu terhadap
sistem kontrol/pengawasan pendidikan.
a. Fungsi kontrol pendidikan tetap mengacu dalam tiga hal, yakni berfungsi
sebagai sensor, komparator, dan activator. Pada fungsi sensor, kontrol
pendidikan itu mendayaguakan rencana pendidikan sebagai ukuran yang
dimaksudkan untuk mengukur pelaksanaan dan keberhasilan suatu rencana
pendidikan.
Jeki Gabriel | 28
b. Sistem kontrol pendidikan juga dapat diklasifikasikan sebagai berikut :
1) Apakah kontrol itu dilakukan secara terbuka atau secara tertutup?
Kontrol yang dilakukan secara terbuka berarti dapat melibatkan semua
orang di lingkungan organisasi dan konsekuensinya semua informasi
perlu ditampung dan diperhatikan. Kontrol secara tertutup keterlibatan
hanya dibatasi pada pihak-pihak terkait saja dan umumnya tidak
menyelusuri semua dimensi organisasi pendidikan. Kedua cara ini
sesungguhnya dapat dilakukan secara berbarengan.
2) Apakah kontrol pendidikan dilakukan oleh manusia atau oleh mesin
(alat elektronik misalnya). Sistem manajemen pendidikan yang telah
berkembang dewasa ini memungkinkan penggunaan kedua sistem
tersebut, yakni dilakukan oleh manusia dan menggunakan alat yang
canggih.
Apakah kontrol dilaksanakan terhadap efektivitas dan efisiensi organisasi
atau terhadap hasil operasionalisasi sistem pendidikan. Kedua bentuk
kontrol tersebut seyogyanya dilaksanakan dalam sistem manajemen
pendidikan, karena pada dasarnya antara kegiatan organisasi pendidikan
dan keberhasilan yang dicapai dalam pelaksanaan harian bersifat saling
terkait dan oleh karenanya perlu dilaksanakan secara berkesinambungan.
F. Manajemen Pendidikan Sekolah
Merujuk kepada kebijakan Direktorat Pendidikan Menengah Umum
Depdiknas dalam buku Panduan Manajemen Sekolah, berikut ini akan diuraikan
secara ringkas tentang bidang-bidang kegiatan pendidikan di sekolah, yang
mencakup :
A. Manajemen kurikulum
Jeki Gabriel | 29
Manajemen kurikulum merupakan subtansi manajemen yang utama di
sekolah. Prinsip dasar manajemen kurikulum ini adalah berusaha agar proses
pembelajaran dapat berjalan dengan baik, dengan tolok ukur pencapaian tujuan
oleh siswa dan mendorong guru untuk menyusun dan terus menerus
menyempurnakan strategi pembelajarannya. Tahapan manajemen kurikulum di
sekolah dilakukan melalui empat tahap :
 Perencanaan;
 Pengorganisasian dan koordinasi;
 Pelaksanaan; dan
 Pengendalian.
Dalam konteks Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), Tita Lestari
(2006) mengemukakan tentang siklus manajemen kurikulum yang terdiri dari
empat tahap :
1. Tahap perencanaan; meliputi langkah-langkah sebagai : (1) analisis
kebutuhan; (2) merumuskan dan menjawab pertanyaan filosofis; (3)
menentukan disain kurikulum; dan (4) membuat rencana induk (master
plan): pengembangan, pelaksanaan, dan penilaian.
2. Tahap pengembangan; meliputi langkah-langkah : (1) perumusan rasional
atau dasar pemikiran; (2) perumusan visi, misi, dan tujuan; (3) penentuan
struktur dan isi program; (4) pemilihan dan pengorganisasian materi; (5)
pengorganisasian kegiatan pembelajaran; (6) pemilihan sumber, alat, dan
sarana belajar; dan (7) penentuan cara mengukur hasil belajar.
Jeki Gabriel | 30
3. Tahap implementasi atau pelaksanaan; meliputi langkah-langkah: (1)
penyusunan rencana dan program pembelajaran (Silabus, RPP: Rencana
Pelaksanaan Pembelajaran); (2) penjabaran materi (kedalaman dan
keluasan); (3) penentuan strategi dan metode pembelajaran; (4)
penyediaan sumber, alat, dan sarana pembelajaran; (5) penentuan cara dan
alat penilaian proses dan hasil belajar; dan (6) setting lingkungan
pembelajaran
4. Tahap penilaian; terutama dilakukan untuk melihat sejauhmana kekuatan
dan kelemahan dari kurikulum yang dikembangkan, baik bentuk penilaian
formatif maupun sumatif. Penilailain kurikulum dapat mencakup Konteks,
input, proses, produk (CIPP) : Penilaian konteks: memfokuskan pada
pendekatan sistem dan tujuan, kondisi aktual, masalah-masalah dan
peluang. Penilaian Input: memfokuskan pada kemampuan sistem, strategi
pencapaian tujuan, implementasi design dan cost benefit dari rancangan.
Penilaian proses memiliki fokus yaitu pada penyediaan informasi untuk
pembuatan keputusan dalam melaksanakan program. Penilaian product
berfokus pada mengukur pencapaian proses dan pada akhir program
(identik dengan evaluasi sumatif)
B. Manajemen Kesiswaan
Dalam manajemen kesiswaan terdapat empat prinsip dasar, yaitu :
1. Siswa harus diperlakukan sebagai subyek dan bukan obyek, sehingga
harus didorong untuk berperan serta dalam setiap perencanaan dan
pengambilan keputusan yang terkait dengan kegiatan mereka;
Jeki Gabriel | 31
2. Kondisi siswa sangat beragam, ditinjau dari kondisi fisik, kemampuan
intelektual, sosial ekonomi, minat dan seterusnya. Oleh karena itu
diperlukan wahana kegiatan yang beragam, sehingga setiap siswa
memiliki wahana untuk berkembang secara optimal;
3. Siswa hanya termotivasi belajar, jika mereka menyenangi apa yang
diajarkan; dan
4. Pengembangan potensi siswa tidak hanya menyangkut ranah kognitif,
tetapi juga ranah afektif, dan psikomotor.
C. Manajemen personalia
Terdapat empat prinsip dasar manajemen personalia yaitu :
1. Dalam mengembangkan sekolah, sumber daya manusia adalah komponen
paling berharga;
2. Sumber daya manusia akan berperan secara optimal jika dikelola dengan
baik, sehingga mendukung tujuan institusional;
3. Kultur dan suasana organisasi di sekolah, serta perilaku manajerial sekolah
sangat berpengaruh terhadap pencapaian tujuan pengembangan sekolah;
dan
4. Manajemen personalia di sekolah pada prinsipnya mengupayakan agar
setiap warga dapat bekerja sama dan saling mendukung untuk mencapai
tujuan sekolah.
Disamping faktor ketersediaan sumber daya manusia, hal yang amat penting
dalam manajamen personalia adalah berkenaan penguasaan kompetensi dari
Jeki Gabriel | 32
para personil di sekolah. Oleh karena itu, upaya pengembangan kompetensi
dari setiap personil sekolah menjadi mutlak diperlukan.
D. Manajemen keuangan
Manajemen keuangan di sekolah terutama berkenaan dengan kiat sekolah
dalam menggali dana, kiat sekolah dalam mengelola dana, pengelolaan
keuangan dikaitkan dengan program tahunan sekolah, cara
mengadministrasikan dana sekolah, dan cara melakukan pengawasan,
pengendalian serta pemeriksaan.
Inti dari manajemen keuangan adalah pencapaian efisiensi dan efektivitas.
Oleh karena itu, disamping mengupayakan ketersediaan dana yang memadai
untuk kebutuhan pembangunan maupun kegiatan rutin operasional di sekolah,
juga perlu diperhatikan faktor akuntabilitas dan transparansi setiap penggunaan
keuangan baik yang bersumber pemerintah, masyarakat dan sumber-sumber
lainnya.
E. Manajemen perawatan preventif sarana dan prasana sekolah
Manajemen perawatan preventif sarana dan prasana sekolah merupakan
tindakan yang dilakukan secara periodik dan terencana untuk merawat fasilitas
fisik, seperti gedung, mebeler, dan peralatan sekolah lainnya, dengan tujuan
untuk meningkatkan kinerja, memperpanjang usia pakai, menurunkan biaya
perbaikan dan menetapkan biaya efektif perawatan sarana dan pra sarana
sekolah.
Dalam manajemen ini perlu dibuat program perawatan preventif di
sekolah dengan cara pembentukan tim pelaksana, membuat daftar sarana dan
prasaran, menyiapkan jadwal kegiatan perawatan, menyiapkan lembar evaluasi
Jeki Gabriel | 33
untuk menilai hasil kerja perawatan pada masing-masing bagian dan
memberikan penghargaan bagi mereka yang berhasil meningkatkan kinerja
peralatan sekolah dalam rangka meningkatkan kesadaran merawat sarana dan
prasarana sekolah. Sedangkan untuk pelaksanaannya dilakukan : pengarahan
kepada tim pelaksana, mengupayakan pemantauan bulanan ke lokasi tempat
sarana dan prasarana, menyebarluaskan informasi tentang program perawatan
preventif untuk seluruh warga sekolah, dan membuat program lomba
perawatan terhadap sarana dan fasilitas sekolah untuk memotivasi warga
sekolah.
F. Manajemen Kinerja Guru
Dalam perspektif manajemen, agar kinerja guru dapat selalu ditingkatkan
dan mencapai standar tertentu, maka dibutuhkan suatu manajemen kinerja
(performance management). Dengan mengacu pada pemikiran Robert Bacal
(2001) dalam bukunya Performance Management di bawah ini akan
dibicarakan tentang manajemen kinerja guru.
Robert Bacal mengemukakan bahwa manajemen kinerja, sebagai : sebuah
proses komunikasi yang berkesinambungan dan dilakukan dalam kemitraan
antara seorang karyawan dan penyelia langsungnya. Proses ini meliputi
kegiatan membangun harapan yang jelas serta pemahaman mengenai pekerjaan
yang akan dilakukan. Ini merupakan sebuah sistem. Artinya, ia memiliki
sejumlah bagian yang semuanya harus diikut sertakan, kalau sistem manajemen
kinerja ini hendak memberikan nilai tambah bagi organisasi, manajer dan
karyawan.
Dari ungkapan di atas, maka manajemen kinerja guru terutama berkaitan
erat dengan tugas kepala sekolah untuk selalu melakukan komunikasi yang
Jeki Gabriel | 34
berkesinambungan, melalui jalinan kemitraan dengan seluruh guru di
sekolahnya. Dalam mengembangkan manajemen kinerja guru, didalamnya
harus dapat membangun harapan yang jelas serta pemahaman tentang :
Fungsi kerja esensial yang diharapkan dari para guru.
1) Seberapa besar kontribusi pekerjaan guru bagi pencapaian tujuan pendidikan
di sekolah.melakukan pekerjaan dengan baik”
2) Bagaimana guru dan kepala sekolah bekerja sama untuk mempertahankan,
memperbaiki, maupun mengembangkan kinerja guru yang sudah ada
sekarang.
3) Bagaimana prestasi kerja akan diukur.
4) Mengenali berbagai hambatan kinerja dan berupaya menyingkirkannya.
Selanjutnya, Robert Bacal mengemukakan pula bahwa dalam manajemen kinerja
diantaranya meliputi perencanaan kinerja, komunikasi kinerja yang
berkesinambungan dan evaluasi kinerja.
Perencanaan kinerja merupakan suatu proses di mana guru dan kepala sekolah
bekerja sama merencanakan apa yang harus dikerjakan guru pada tahun
mendatang, menentukan bagaimana kinerja harus diukur, mengenali dan
merencanakan cara mengatasi kendala, serta mencapai pemahaman bersama
tentang pekerjaan itu.
Komunikasi yang berkesinambungan merupakan proses di mana kepala
sekolah dan guru bekerja sama untuk saling berbagi informasi mengenai
perkembangan kerja, hambatan dan permasalahan yang mungkin timbul, solusi
yang dapat digunakan untuk mengatasi berbagai masalah, dan bagaimana kepala
Jeki Gabriel | 35
sekolah dapat membantu guru. Arti pentingnya terletak pada kemampuannya
mengidentifikasi dan menanggulangi kesulitan atau persoalan sebelum itu menjadi
besar.
Evaluasi kinerja adalah salah satu bagian dari manajemen kinerja, yang
merupakan proses di mana kinerja perseorangan dinilai dan dievaluasi. Ini dipakai
untuk menjawab pertanyaan, “ Seberapa baikkah kinerja seorang guru pada suatu
periode tertentu ?”. Metode apapun yang dipergunakan untuk menilai kinerja,
penting sekali bagi kita untuk menghindari dua perangkap. Pertama, tidak
mengasumsikan masalah kinerja terjadi secara terpisah satu sama lain, atau
“selalu salahnya guru”. Kedua, tiada satu pun taksiran yang dapat memberikan
gambaran keseluruhan tentang apa yang terjadi dan mengapa. Penilaian kinerja
hanyalah sebuah titik awal bagi diskusi serta diagnosis lebih lanjut.
Sementara itu, Karen Seeker dan Joe B. Wilson (2000) memberikan gambaran
tentang proses manajemen kinerja dengan apa yang disebut dengan siklus
manajemen kinerja, yang terdiri dari tiga fase yakni perencanaan, pembinaan, dan
evaluasi. Perencanaan merupakan fase pendefinisian dan pembahasan peran,
tanggung jawab, dan ekpektasi yang terukur. Perencanaan tadi membawa pada
fase pembinaan, di mana guru dibimbing dan dikembangkan – mendorong atau
mengarahkan upaya mereka melalui dukungan, umpan balik, dan penghargaan.
Kemudian dalam fase evaluasi, kinerja guru dikaji dan dibandingkan dengan
ekspektasi yang telah ditetapkan dalam rencana kinerja. Rencana terus
dikembangkan, siklus terus berulang, dan guru, kepala sekolah, dan staf
administrasi , serta organisasi terus belajar dan tumbuh.
Jeki Gabriel | 36
Setiap fase didasarkan pada masukan dari fase sebelumnya dan menghasilkan
keluaran, yang pada gilirannya, menjadi masukan fase berikutnya lagi. Semua dari
ketiga fase Siklus Manajemen Kinerja sama pentingnya bagi mutu proses dan
ketiganya harus diperlakukan secara berurut. Perencanaan harus dilakukan
pertama kali, kemudian diikuti Pembinaan, dan akhirnya Evaluasi.
Dengan tidak bermaksud mengesampingkan arti penting perencanaan kinerja
dan pembinaan atau komunikasi kinerja. Di bawah ini akan dipaparkan tentang
evaluasi kinerja guru. Bahwa agar kinerja guru dapat ditingkatkan dan
memberikan sumbangan yang siginifikan terhadap kinerja sekolah secara
keseluruhan maka perlu dilakukan evaluasi terhadap kinerja guru. Dalam hal ini,
Ronald T.C. Boyd (2002) mengemukakan bahwa evaluasi kinerja guru didesain
untuk melayani dua tujuan, yaitu :
1. Untuk mengukur kompetensi guru dan
2. Mendukung pengembangan profesional.
Sistem evaluasi kinerja guru hendaknya memberikan manfaat sebagai umpan
balik untuk memenuhi berbagai kebutuhan di kelas (classroom needs), dan dapat
memberikan peluang bagi pengembangan teknik-teknik baru dalam pengajaran,
serta mendapatkan konseling dari kepala sekolah, pengawas pendidkan atau guru
lainnya untuk membuat berbagai perubahan di dalam kelas.
Untuk mencapai tujuan tersebut, seorang evaluator (baca: kepala sekolah atau
pengawas sekolah) terlebih dahulu harus menyusun prosedur spesifik dan
menetapkan standar evaluasi.
Penetapan standar hendaknya dikaitkan dengan :
Jeki Gabriel | 37
1. Keterampilan-keterampilan dalam mengajar;
2. Bersifat seobyektif mungkin;
3. Komunikasi secara jelas dengan guru sebelum penilaian dilaksanakan dan
ditinjau ulang setelah selesai dievaluasi, dan
4. Dikaitkan dengan pengembangan profesional guru.
Para evaluator hendaknya mempertimbangkan aspek keragaman keterampilan
pengajaran yang dimiliki guru. dan menggunakan berbagai sumber informasi
tentang kinerja guru, sehingga dapat memberikan penilaian secara lebih akurat.
Beberapa prosedur evaluasi kinerja guru yang dapat digunakan oleh evaluator,
diantaranya :
 Mengobservasi kegiatan kelas (observe classroom activities). Ini merupakan
bentuk umum untuk mengumpulkan data dalam menilai kinerja guru. Tujuan
observasi kelas adalah untuk memperoleh gambaran secara representatif
tentang kinerja guru di dalam kelas. Kendati demikian, untuk memperoleh
tujuan ini, evaluator dalam menentukan hasil evaluasi tidak cukup dengan
waktu yang relatif sedikit atau hanya satu kelas. Oleh karena itu observasi
dapat dilaksanakan secara formal dan direncanakan atau secara informal dan
tanpa pemberitahuan terlebih dahulu sehingga dapat diperoleh informasi yang
bernilai (valuable)
 Meninjau kembali rencana pengajaran dan catatan – catatan dalam kelas.
Rencana pengajaran dapat merefleksikan sejauh mana guru dapat memahami
tujuan-tujuan pengajaran. Peninjauan catatan-cataan dalam kelas, seperti hasil
Jeki Gabriel | 38
test dan tugas-tugas merupakan indikator sejauhmana guru dapat mengkaitkan
antara perencanaan pengajaran , proses pengajaran dan testing (evaluasi).
 Memperluas jumlah orang-orang yang terlibat dalam evaluasi. Jika tujuan
evaluasi untuk meningkatkan pertumbuhan kinerja guru maka kegiatan
evaluasi sebaiknya dapat melibatkan berbagai pihak sebagai evaluator, seperti
: siswa, rekan sejawat, dan tenaga administrasi. Bahkan self evaluation akan
memberikan perspektif tentang kinerjanya. Namun jika untuk kepentingan
pengujian kompetensi, pada umumnya yang bertindak sebagai evaluator
adalah kepala sekolah dan pengawas.
Setiap hasil evaluasi seyogyanya dilaporkan. Konferensi pasca-observasi dapat
memberikan umpan balik kepada guru tentang kekuatan dan kelemahannya.
Dalam hal ini, beberapa hal yang harus diperhatikan oleh evaluator :
 Penyampaian umpan balik dilakukan secara positif dan bijak;
 Penyampaian gagasan dan mendorong untuk terjadinya perubahan pada guru;
 Menjaga derajat formalitas sesuai dengan keperluan untuk mencapai tujuantujuan
evaluasi;
 Menjaga keseimbangan antara pujian dan kritik;
 Memberikan umpan balik yang bermanfaat secara secukupnya dan tidak
berlebihan.
Jeki Gabriel | 39
G. Administrasi Peningkatan Mutu Pendidikan:
A. Administrasi Sekolah
Administrasi sekolah sendiri meliputi:
1. Administrasi Kurikulum Dalam Menerapkan Standar Isi
Penerapan standar isi adalah ruang lingkup penerapan kurikulum dan
pengembangan kompetensi yang dituangkan dalam kriteria tentang
kompetensi tamatan, kompetensi bahan kajian, kompetensi mata pelajaran,
dan silabus pembelajaran yang harus dipenuhi oleh peserta didik pada
jenjang dan pendidikan tertentu (PPRI No. 19 Tahun 2005 tentang Standar
Nasional Pendidikan, Pasal 1 ayat 5). Standar isi yang memuat administrasi
struktur kurikulum, beban belajar, kurikulum SMA/MA/SMK/MAK, dan
kalender akademik.
2. Administrasi Peningkatan Mutu Proses
Penerapan standar proses adalah standar nasional pendidikan yang
berkaitan dengan pelaksanaan pembelajaran pada satuan pendidikan unuk
mencapai standar kompetensi lulusan (PPRI No. 19 Tahun 2005 tentang
Standar Nasional Pendidikan, Pasal 1, ayat 6).
Administrasi standar proses memuat administrasi:
1) perencanaan proses pembelajaran
2) pelaksanaan proses pembelajaran
3) penilaian hasil pembelajaran
4) pengawasan proses pembelajaran
Mekanisme Jaminan Mutu Pendidikan:
Jeki Gabriel | 40
Substansi utama pendidikan dilaksanakan dengan pendekatan siklus
PDCA (Plan – Do – Check – Action) pada proses penyelenggaraan
pendidikan, yaitu sebagai berikut:
a. Perencanaan Mutu (Plan)
Adanya perencanaan berkaitan dengan perencanaan mutu, meliputi
penetapan kebijakan mutu, penetapan tujuan mutu beserta indikator
pencapaiannya, serta penetapan prosedur untuk pencapaian tujuan
mutu.
b. Pelaksanaan (Do)
Adanya pelaksanaan dari apa yang sudah direncanakan. Maka untuk
menjamin mutu pendidikan, seluruh proses pendidikan, termasuk
pelayanan administrasi pendidikan dilaksanakan sesuai dengan SOP
yang telah ditentukan.
c. Evaluasi (Check)
Adanya monitoring, pemeriksaan, pengukuran dan evaluasi terhadap
pelaksanaan dan hasil pelasanaan termasuk audit mutu internal.
d. Tindak Lanjut (Action)
Adanya tindak lanjut dan perbaikan dari hasil evaluasi. Menyusun
rencana perbaikan dan menyusun laporan pelaksanaan program
pendidikan. .
Penjaminan Mutu dibutuhkan oleh pendidikan adalah untuk ;
(a) Memeriksa dan mengendalikan mutu,
(b) Meningkatkan mutu,
(c) Memberikan jaminan pada stakeholders,
Jeki Gabriel | 41
(d) Standarisasi,
(e) Persaingan nasional dan internasional,
(f) Pengakuan lulusan,
(g) Memastikan seluruh kegiatan institusi berjalan dengan baik dan
terus meningkat secara berkesinambungan, dan
(h) Membuktikan kepada seluruh stakeholders bahwa institusi
Bertanggungjawab (accountable) untuk mutu seluruh kegiatannya.
Ada 14 hal untuk mencapai mutu pendidikan prima, yang termasuk dalam
strategi total quality education (TQE), yaitu:
1. Merancang secara terus-menerus berbagai tujuan pengembangan
siswa, pegawai, dan layanan pendidikan.
2. Mengadopsi filosofi baru, yang mengedepankan kualitas pembelajaran
dan kualitas sekolah. Manajemen pendidikan harus mengambil
prakarsa dalam gerakan peningkatan mutu ini.
3. Guru harus menyediakan pengalaman pembelajaran yang
menghasilkan kualitas kerja. Peserta didik harus berusaha mengejar
kualitas, dan menyadari jika tidak menghasilkan output yang baik,
customers mereka (guru, orangtua, lapangan kerja) tidak akan
menyukainya.
4. Menjalin kerja sama yang baik dengan pihak-pihak yang
berkepentingan (stake holders) untuk menjamin bahwa input yang
diterima berkualitas.
Jeki Gabriel | 42
5. Melakukan evaluasi secara kontinyu dan mencari terobosan-terobosan
pengembangan sistem dan proses untuk meningkatkan mutu dan
produktivitas.
6. Para guru, staf lain dan murid harus dilatih dan dilatih kembali dalam
pengembangan mutu. Guru harus melatih siswa agar menjadi warga
dan pekerja masa depan dengan mengembangkan kemampuan
pengendalian diri, pengambilan keputusan dan pemecahan masalah.
7. Kepemimpinan lembaga, yang mengarahkan guru, staf dan siswa
mengerjakan tugas pekerjaannya dengan lebih baik. Di dalam
mengelola kelas, guru hendaknya menerapkan visi kepemimpinan pada
kepengawasan.
8. Mengembangkan ketakutan, yakni semua staf harus merasa mereka
dapat menemukan masalah dan cara pemecahannya, guru
mengembangkan kerja sama dengan siswa untuk meningkatkan mutu.
9. Menghilangkan penghalang kerja sama diantara staf, guru, dan murid,
atau antar ketiganya.
10. Hapus slogan, desakan atau target yang bernuansa pemaksaan dari
luar.
11. Kurangi angka-angka kuota, ganti dengan penerapan kepemimpinan,
karena penetapan kuota justru akan mengurangi produktivitas dan
kualitas.
12. Hilangkan perintang-perintang yang dapat menghilangkan kebanggaan
para guru atau siswa terhadap kecakapan kerjanya.
13. Sejalan dengan kebutuhan penguasaan materi baru, metode-metode
atau teknik-teknik baru, maka harus disediakan program pendidikan
Jeki Gabriel | 43
atau pengembangan diri bagi setiap orang dalam lembaga sekolah
tersebut.
14. Pengelolaan harus memberikan kesempatan kepada semua pihak untuk
mengambil bagian atau peranan dalam pencapaian kualitas.
3. Administrasi Pendidik Dan Tenaga Kependidikan
Penerapan standar pendidik dan tenaga kependidikan adalah kriteria
pendidikan prajabatan dan kelayakan fisik maupun mental, serta pendidikan
dalam jabatan yang meliputi kualifikasi akademik dan kompetensi pendidik
dan tenaga kependidikan. Standar pendidik dan tenaga kependidikan
meliputi kualifikasi dan kompetensi. Seseorang yang telah memiliki
kompetensi ditandai lulus sertifikasi. Administrasi standar pendidik dan
tenaga kependidikan sekolah akan lebih cepat, tepat, dan mudah dikerjakan
apabila menggunakan program komputer, meskipun dengan program yang
sangat sederhana.
4. Administrasi Sarana Dan Prasarana
Penerapan standar sarana dan prasarana adalah peningkatan mutu standar
nasional pendidikan yang berkaitan dengan criteria minimal tentang ruang
belajar, tempat berolah raga, tempat beribadah, perpustakaan, laboratorium,
bengkel kerja, tempat bermain, tempat berkreasi dan berekreasi serta
sumber belajar lain, yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran,
termasuk penggunaan teknologi dan komunikasi.
5. Administrasi Keuangan
Penerapan standar pembiayaan adalah standar yang mengatur sistem
anggaran, pengalokasian anggaran, dan mempertanggung jawabkan biaya
operasi satuan pendidikan yang berlaku selama satu tahun. Pembiayaan
Jeki Gabriel | 44
pendidikan terdiri atas: (1) Biaya investasi, (2) Biaya operasi, dan (3) Biaya
personal . Administrasi standar pembiayaan akan lebih cepat, tepat, dan
mudah dikerjakan apabila menggunakan program komputer, meskipun
dengan program yang sangat sederhana.
Pemberlakuan desentralisasi pendidikan mengharuskan diperkuatnya
landasan dasar pendidikan yang demokratis, transparan, efisien dan
melibatkan partisipasi masyarakat daerah. Muctar Buchori (2001),
menyatakan pendidikan merupakan faktor penentu keberhasilan
pembangunan manusia. Karena, pendidikan berfungsi sebagai pengembang
pengetahuan, ketrampilan, nilai dan kebudayaan.
H. Manajemen Perpustakaan Sekolah
Ada beberapa kompetensi kepemimpinan dalam rangka mengimplementasikan
manajemen perpustakaan. sekolah. untuk mencapai keberhasilan melalui
penerapan manajemen mutu terpadu dalam pendidikan, kompetensi yang
diperlukan dimaksud menurut Charles Hoy, dkk (dalam Syarifuddin, 2002) sebagai
berikut:
1. Visi, yaitu (a) kemampuan mengajukan tujuan dan sasaran sesuai keinginan
bagi sekolah, (b) kemampuan untuk melaksanakan kebutuhan sementara dalam
situasi tertentu, (c) kemampuan memprediksi kebutuhan sesuai tugas, (d)
menghasilkan keaslian, mengungkapkan imajinasi untuk mengidentifikasi
tugas, dan (e) kemampuan mendemonstrasikan suatu kesadaran tentang
dimensi nilai dan kesiapan terhadap Wtangan asumsi.
Jeki Gabriel | 45
2. Keterampilan perencanaan, yaitu (a) kemampuan merencanakan pencapaian
target, (b) kemampuan menilai urutan alternatif strategis sebelum pelaksanaan.
suatu rencana, (c) kemampuan menyadari jadwal. yang sesuai, (d) kemampuan
menentukan prioritas, (e) kemampuan menganalisis elemen penting, dan (f)
kemampuan mengembangkan secara, detail dan urutan logis rencana untuk
mencapai sasaran.
3. Berpikir kritis, yaitu (a) kemampuan. berpikir analitis dan kritis, (b)
kernampuan menerapkan konsep dan prinsip, dan (c) kernampuan
membedakan berpilar rutin dan berpikir analitis.
4. Keterampilan kepemimpinan, yaitu (a) kemampuan mengarahkan. tindakan dan
semua orang menuju sasaran. yang disepakati, (b) menstruktur interaksi untuk
menjangkau tujuan, (c) memimpin penyebaran secara efektif semua
sumbernya, (d.) keinginan menedma tanggung jawab untuk tindakan secara.
bersama dan untuk mencapai tujuan, dan. (e) kemampuan bertindak secara.
meyakinkan dalam situasi yang sesuai.
5. Keteguhan hati, yaitu. (a) kesiapan. membuat suatu urutan strategi untuk
mencapai solusi masalah, (b) kemampuan untuk mendemonstrasikan suatu.
komitmen terhadap tugas, dan (c) kemampuan untuk mengenali kapan iklim
yang diperlukan memberikan respons yang fleksibel.
6. Keterampilan mempengaruhi, yaitu (a) kemampuan untuk memberikan
pengaruh atas yang lain dengan tindakan atau keteladanan, (b) kemampuan
untuk memperoleh keterlibatan yang lain dalam proses manajemen, (c)
membujuk staf untuk menyeirubangkan kebutuhan individual dan keperluan
organisasi, dan (d) membujuk personel untuk memperhatikan keluasan
berbagai pilihan.
Jeki Gabriel | 46
7. Keterampilan hubungan interpersonal, yaitu (a) kernampuan membangun. dan
memelihara hubungan positif, (b) kemampuan merasakan. kebutuhan,
perhatian dan. keadaan. pribadi dari orang lain, (c) kernampuan mengenali dan
menyelesaikan konflik, (d) kernarnpuan menggunakan keterampilan dan
mendengarkan secara. efektif, (e) kemarnpuan memberitahukan,
menginterprestasi dan merespon perilaku nonverbal, (f) kemampuan
menggunakan secara efektif urutan komunikasi lisan dan tulisan, dan (g)
kemampuan memberikan umpan balik yang sesuai dalam suasana yang sensitif
(peka).
8. Percaya diri, yaitu. (a) kemampuan untuk merasa yakin akan potensi pribadi
dan penilaian, (b) kemampuan mendernonstrasikan perilaku. tegas tanpa
menggerakkan permusuhan, (c) kernampuan menyusun dan. menerima. umpan
balik dari kineija seseorang dan gaya manajemen, (d) kemampuan
menyampalkan tantangan kepada. yang lain agar menata. sikap percaya din
mereka, dan (e) kemampuan menyampaikan umpan balik untuk
mengembangkan percaya diri.
9. Pengembangan, yaitu (a) kemampuan untuk secara aktif menemukan cara
mengembangkan pengetahuan pribadi, (b) kemampuan mendemonstrasikan
suatu pengertian mengenai bentuk pembelajaran diri dan yang lain, (c)
kemampuan secara. aktif menatap peluang untuk menangani pertumbuhan
dalam diri dan yang lain, (d) kemampuan untuk mernasuki pengembangan
kebutuhan, (e) kemampuan melakukan rancangan, melaksanakan, dan
mengevaluasi program pengembangan, dan (f) kemampuan untuk
mengimplementasikan iklim yang kondusif dan positif untuk pertumbuhan dan
pengembangan organisasi.
Jeki Gabriel | 47
10. Empati, yaitu (a) kemampuan mengungkapkan kesadaran tentang kebutuhan
kelompok dan kebutuhan seorang anggota, (b) kernampuan mendengarkan dan
berkomunikasi dalam suasana yang konstruktif, dan (c) kernampuan
menyatakan hal yang sensitif untuk mempengaruhi keputusan bagi yang lain.
11. Toleransi terhadap stres, yaitu (a) kemampuan menyatakan perilaku yang
sesuai dalam keadaan stres, (b) kemampuan mendemonstrasikan ketabahan/ulet
dalam situasi tekanan, (c) kemampuan menyisakan secara efektif suatu tingkat
pekedaan, (d) kemampuan memehhara keseimbangan antara beberapa prioritas,
dan (e) kernampuan memperhitungkan tingkatan dari stres orang lain.
Jeki Gabriel | 48
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa Manajemen administrasi
sekolah memiliki peranan penting dalam sekolah, karena berhubungan dengan
sarana dan prasarana di sekolah serta proses belajar-mengajar di sekolah agar
lebih lancar dan efektif. Manajemen administrasi sekolah sendiri yang melakukan
adalah seluruh anggota di sekolah, dan yang memimpin adalah kepala sekolah.
Konsep otonomi pendidikan mengandung pengertian yang luas, mencakup filosofi,
tujuan, format dan isi pendidikan serta admnistrasi dan manajemen pendidikan itu sendiri.
Implikasinya adalah setiap daerah otonomi harus memiliki visi dan misi pendidikan yang
jelas dan jauh ke depan dengan melakukan pengkajian yang mendalam dan meluas
tentang trend perkembangan penduduk dan masyarakat untuk memperoleh konstruk
masyarakat di masa depan dan tindak lanjutnya, merancang sistem pendidikan yang
sesuai dengan karakteristik budaya bangsa Indonesia yang Bhineka Tunggal Ika.
Kemandirian daerah itu harus diawali dengan evaluasi diri, melakukan analisis faktor
internal dan eksternal daerah guna mendapat suatu gambaran nyata tentang kondisi
daerah sehingga dapat disusun suatu strategi yang matang dan mantap dalam upaya
mengangkat harkat dan martabat masyarakat daerah yang berbudaya dan berdaya saing
tinggi melalui otonomi pendidikan yang bermutu dan produktif.
B. Saran
Sebaiknya system pengolahan pendidikan disekolah harus dilaksanakan
sebagaimana mestinya sesuai dengan yang diamanatkan oleh UUD 1945 dan
Jeki Gabriel | 49
perpegang teguh pada nilai-nilai kemananusiaan. Sehingga tercipta suatu generasi
yang lebih baik supaya nantinya akan membawa bangsa ini kearah yang lebih
baik dan sejahtera.
Jeki Gabriel | 50
DAFTAR PUSTAKA
http://agus1salim.blogspot.com, 2011. Berbagai Kebijakan Perubahan
Kurikulum. html
M. Yusuf MS, Drs. dan Yaya Suhendar, Drs. 2007. Pedoman Penyelenggaraan
Perpustakaan Sekolah. Jakarta: Kencana.
Syafaruddin, Manajemen mutu Terpadu dalam Pendidikan, Jakarta:Grasindo
http://edukasi.kompasiana.com, 2011. Manajemen Pendidikan
http://idb4.wikispaces.com.Manajemen Berbasis Sekolah Dalam Peningkatan
Mutu Pendidikan. pdf
http://schooldevelopment.net/indexi.html
http://www.scribd.com, file type; doc. Download-Skripsi-Pendidikan
http://www.gemari.or.id, Artikel.shtml

No comments:

Post a Comment