Nama : Jeki Gabriel
NPM : 10.601040.04
Jurusan : Matematika
TUGAS PENGEMBANGAN MATEMATIKA
SOAL:
1. Apa saja pengembangan kurikulum matematika di Indonesia?
2. Apa dasar lahirnya kurikulum 1984?
3. Apa itu kompetensi?
4. Jelaskan prinsip KTSP?
5. Apa itu hakikat matematika sekolah?
6. Jelaskan tujuan pembelajaran matematika berdasarkan PERMEN?
7. Standar kurikulam di Indonesia?
8. Apa itu penalaran dalam matematika?
9. Apa itu pemecahan masalah dalam matematika?
JAWABAN:
1. Pengembangan matematika di Indonesia:
1) Matematika Tradisional (ilmu pasti)
Ciri khas dari matematika tradisional adalah lebih menekankan pada ilmu hitung dan cara berhitung. Pada zaman itu matematika merupakan mata pelajaran wajib. Ciri lain dari matematika tradisional adalah pembelajaran lebih menekankan hafalan dari pada pengertian, menekankan bagaimana sesuatu itu dihitung bukan mengapa sesuatu itu dihitungnya demikian, dan lebih mengutamakan kepada melatih otak bukan kegunaan.
2) Matematika modern
Pengajaran matematika modern resminya dimulai setelah adanya kurikulum 1975. Hal ini muncul karena adanya kemajuan teknologi, selain itu juga penemuan-penemuan teori belajar mengajar semakin memperkuat adanya pembaharuan. Kurikulum 1975 membahas karakteristik matematika sbb:
1. Memuat topik-topik dan pendekatan baru.
2. Pembelajaran lebih menekankan pada pembelajaran bermakna dan berpengertian.
3. Program matematika sekolah dasar dan sekolah menengah lebih kontinyu.
4. Pengenalan penekanan pembelajaran pada struktur.
5. Menggunakan bahasa yang lebih tepat.
6. Program dapat melayani kelompok anak-anak yang kemampuannya hetrogen.
7. Pusat pengajarn pada murid bukan pada guru.
8. Pengajaran matematika lebih hidup dan menarik.
9. Metode pembelajaran menggunakan metode menemukan, memecahkan masalah, dan teknik diskusi.
3) Kurikulum tahun 1984
Karena adanya kemajuan teknologi muthakir seperti kalkulator dan computer, maka pemerintah Indonesia mengeluarkan kurikulum baru yang bernama kurikulum 1984. Dengan alasan adanya sarat materi, perbedaan kemajuan pendidikan antar daerah dari segi teknologi, adanya perbedaan kesenjangan antara program kurikulum di satu pihak dan pelaksana sekolah serta kebutuhan lapangan dipihak lain, belum sesuainya materi kurikulum dengan tarap kemampuan anak didik. Ciri khas dari kurikulum matematika 1984 adalah CBSA (cara belajar siswa aktif).
4) Kurikulum tahun 1994
Ciri khas dari matematika 1994 yaitu, struktur materi sudah disesuaikan dengan psikologi perkembangan anak, materi keahlian seperti komputer semakin mendalam, model-model pembelajaran matematika kehidupan disajikan dalam berbagai pokok bahasan. Pada dasarnya, matematika 1994 lebih mengedepankan tekstual materi namun tidak melupakan hal-hal kontekstual yang berkaitan dengan materi.
5) Kurikulum tahun 2004
Pada tahun 2004 pemerintah melaunching kurikulum baru dengan nama kurikulum berbasis kompetensi (KBK). Secara khusus model pembelajaran matematika dalam kurikulum tersebut mempunyai tujuan antara lain:
1. Melatih cara berfikir dan menalar dalam menarik kesimpulan.
2. Mengembangkan aktifitas kreatif.
3. Mengembangkan kemampuan memecahkan masalah.
2. Dasar lahirnya matematika 1984 adalah kekhawatiran Negara maju yang saat itu takut akan kemajuan dari Negara terbelakang yang mampu menyaingi atau melebihi kemajuan Negara maju, Negara terbelakang saat itu seperti Jerman barat, Korea, Jepang, dan Taiwan. Pengajaran matematika ditandai adanya kemajuan teknologi seperti kalkulator dan komputer. Karena pengaruh pengembangan matematika luar negeri, maka pada tahun 1984 pemerintah melaunching kurikulum baru yaitu kurikulum 1984 yang tujuannya untuk mengimbangi perkembangan baru diluar negeri. Matematika 1984 lebih dikenal dengan nama CBSA (cara belajar siswa aktif).
3. Kompetensi dapat didefinisikan sebagai sekumpulan pengetahuan, ketrampilan, prestasi, serta pekerjaan orang. Maka, kompetensi dapat diukur dengan standar umum serta dapat ditingkatkan malalui pendidikan dan pelatihan. Seseorang yang memiliki kompetensi secara mandasar dapat menumbuhkan jiwa produktif dan kepemimpinan. Suatu bangsa yang kuat dan dapat dipercaya memerlukan tenaga kerja yang mempunyai standar kompetensi yang tinggi untuk memenuhi tantangan persaingan serta perubahan teknologi, untuk mewujudkan hal itu, suatu bangsa harus memberikan dan menggunakan standar kompetensi tinggi pada peserta didik, supaya tercapai tujuan pendidikan nasional.
4. KTSP adalah kurikulum oprasional yang disusun oleh dan dilaksanakan di masing-masing satuan pendidikan. KTSP terdiri dari tujuan pendidikan tingkat satuan pendidikan, struktur, muatan kurikulum tingkat satuan pendidikan, kalender pendidikan, dan silabus.
Prinsip-prinsip pengembangan KTSP:
1) Berpusat pada potensi, perkembangan, kebutuhan, kepentingan peserta didik dan lingkungan.
Kurikulum dikembangkan berdasarkan prinsip bahwa peserta didik memiliki posisi sentral untuk mengembangkan kompetensinya agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, mandiri, menjadi warga yang demokrasi serta bertanggung jawab.
2) Beragam dan terpadu
Kurikulum dikembangkan dengan memperhatikan keragaman karakteristik peserta didik, kondisi daerah, dan jenjang serta jenis pendidikan, tanpa melihat semua perbedaan yang ada. Keterpaduan meliputi muatan wajib, muatan local, dan pengembangan diri secara terpadu yang disusun secara berkaitan dan berkesinambunan yang bermakna.
3) Tanggap terhadap perkambangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni
Kurikulum dikembangkan atas dasar kesadaran bahwa ilmu pengetahuan, teknologi dan seni berkembang secara dinamis, dan oleh karena itu semangat dan isi kurikulum mendorong peserta didik untuk mengikuti dan memanfaatkan secara tepat perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni.
4) Relevan dalam kebutuhan kehidupan
Pengembangan kurikulum dilakukan dengan melibatkan pemangku kepentingan (stakeholders) untuk menjamin relevansi pendidikan dengan kebutuhan kehidupan, termasuk di dalamnya kehidupan kemasyarakatan, dunia usaha dan dunia kerja.
5) Menyeluruh dan berkesinambungan
Substansi kurikulum mencakup keseluruhan dimensi kompetensi, bidang kajian keilmuan dan mata pelajaran yang direncanakan dan disajikan secara berkesinambungan antar semua jenjang pendidikan.
6) Belajar sepanjang hayat
Kurikulum diarahkan kepada proses pengembangan, pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik yang berlangsung sepanjang hayat. Kurikulum mencerminkan keterkaitan antara unsur-unsur pendidikan formal, nonformal dan informal, dengan memperhatikan kondisi dan tuntutan lingkungan yang selalu berkembang serta arah pengembangan manusia seutuhnya.
7) Seimbang antara kepentingan nasional dan kepentingan daerah
Kurikulum dikembangkan dengan memperhatikan kepentingan nasional dan kepentingan daerah untuk membangun kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Kepentingan nasional dan kepentingan daerah harus saling mengisi dan memberdayakan sejalan dengan motto Bhineka Tunggal Ika dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia.
5. Hakikat matematika sekolah, yaitu;
Matematika merupakan ilmu universal yang mendasari perkembangan teknologi modern, mempunyai peran penting dalam berbagai disiplin dan mengembangkan daya pikir manusia. Perkembangan pesat di bidang teknologi informasi dan komunikasi dewasa ini dilandasi oleh perkembangan matematika di bidang teori bilangan, aljabar, analisis, teori peluang dan matematika diskrit. Mata pelajaran Matematika perlu diberikan kepada semua peserta didik mulai dari sekolah dasar untuk membekali peserta didik dengan kemampuan berpikir logis, analitis, sistematis, kritis, dan kreatif, serta kemampuan bekerjasama. Hal ini dilakukan supaya peserta didik mempunyai kemempuan bertahan hidup pada keadaan yang selalu berubah, tidak pasti, dan kompetitif.
Pada pembelajaran matematika hendaknya dimulai dengan pengenalan masalah yang sesuai dengan situasi (contextual problem). Dengan mengajukan masalah kontekstual, peserta didik secara bertahap dibimbing untuk menguasai konsep matematika. Untuk meningkatkan keefektifan pembelajaran, sekolah diharapkan menggunakan teknologi informasi dan komunikasi seperti komputer, alat peraga, atau media lainnya.
6. Tujuan pembelajaran matematika berdasarkan PERMEN, yaitu sbb:
Berdasarkan PERMENDIKNAS No. 22 Tahun 2006, Mata pelajaran matematika bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan berikut:
1. Memahami konsep matematika, menjelaskan keterkaitan antarkonsep dan
mengaplikasikan konsep atau algoritma, secara luwes, akurat, efisien, dan tepat, dalam pemecahan masalah.
2. Menggunakan penalaran pada pola dan sifat, melakukan manipulasi matematika dalam membuat generalisasi, menyusun bukti, atau menjelaskan gagasan dan pernyataan matematika
3. Memecahkan masalah yang meliputi kemampuan memahami masalah, merancang
model matematika, menyelesaikan model dan menafsirkan solusi yang diperoleh
4. Mengomunikasikan gagasan dengan simbol, tabel, diagram, atau media lain untuk
memperjelas keadaan atau masalah
5. Memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan, yaitu memiliki
rasa ingin tahu, perhatian, dan minat dalam mempelajari matematika, serta sikap ulet dan percaya diri dalam pemecahan masalah.
7. Standar kurikulum di Indonesia, yaitu sbb:
Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan.
Peraturan Pemerintah ini memberikan arahan tentang perlunya disusun dan dilaksanakan
delapan standar nasional pendidikan, yaitu:
(1) Standar isi,
(2) Standar proses,
(3) Standar kompetensi lulusan,
(4) Standar pendidik dan tenaga kependidikan,
(5) Standar sarana dan prasarana,
(6) Standar pengelolaan,
(7) Standar pembiayaan, dan
(8) Standar penilaian pendidikan.
8. Penalaran dalam matematika:
Penalaran adalah suatu proses atau suatu aktivitas berpikir untuk menarik suatu kesimpulan atau proses berpikir dalam rangka membuat suatu pernyataan baru yang benar berdasar pada beberapa pernyataan yang kebenarannya telah dibuktikan atau diasumsikan sebelumnya.
Ada dua jenis penalaran yaitu sbb:
Penalaran induktif adalah proses berpikir yang berusaha menghubungkan fakta-fakta atau kejadian-kejadian khusus yang sudah diketahui menuju kepada suatu kesimpulan yang bersifat umum. Penalaran deduktif merupakan proses berpikir untuk menarik kesimpulan tentang hal khusus yang berpijak pada hal umum atau hal yang sebelumnya telah dibuktikan (diasumsikan) kebenarannya.
Dalam matematika penalaran sangat diperlukan untuk memahami pembelajaran, keterkaitan keduanya dapat dilihat seperti berikut. Materi matematika dan penalaran matematika merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Materi matematika dipahami melalui penalaran, dan penalaran dipahami dan dilatihkan melalui belajar materi matematika.
Indikator siswa memiliki kemampuan dalam penalaran adalah mampu:
1) mengajukan dugaan,
2) melakukan manipulasi matematika,
3) menarik kesimpulan, menyusun bukti, memberikan alasan atau bukti terhadap
kebenaran solusi,
4) menarik kesimpulan dari pernyataan,
5) memeriksa kesahihan suatu argumen,
6) menemukan pola atau sifat dari gejala matematis untuk membuat generalisasi.
9. Pemecahan masalah dalam matematika:
Pemecahan masalah adalah proses menerapkan pengetahuan yang telah diperoleh
sebelumnya ke dalam situasi baru yang belum dikenal.
Dengan demikian ciri dari pertanyaan atau penugasan berbentuk pemecahan masalah
adalah:
(1) Ada tantangan dalam materi tugas atau soal,
(2) Masalah tidak dapat diselesaikan dengan menggunakan prosedur rutin yang sudah diketahui penjawab.
Indikator siswa memiliki kemampuan dalam pemecahan masalah adalah mampu:
1. Menunjukkan pemahaman masalah,
2. Mengorganisasi data dan memilih informasi yang relevan dalam pemecahan masalah,
3. Menyajikan masalah secara matematik dalam berbagai bentuk,
4. Memilih pendekatan dan metode pemecahan masalah secara tepat,
5. Mengembangkan strategi pemecahan masalah,
6. Membuat dan menafsirkan model matematika dari suatu masalah dan,
Menyelesaikan masalah yang tidak rutin.
No comments:
Post a Comment