Apa hubungannya
antara teori dan praktek ?
Torraco (1987)
memberikan menyatakan bahwa “ sebuah teori
secara sederhana menjelaskan arti
fenomena dan cara kerjanya” .
Kamus Webster’s Seventh New
Intercollegiate memberikan lima
definisi tentang teori:
1. Analisis serangkaian fakta
yang ada hubungannya satu sama lain
2. Prinsip-prinsip umum atau
abstrak dalam suatu kumpulan fakta yang tentunya berupa
pengetahuan atau seni
3. Prinsip-prinsip umum yang bisa
diterima secara ilmiah atau serangkaian prinsip yang
ditawarkan untuk menjelaskan fenomena
4. Suatu hipotesis yang
diasumsikan untuk kepentingan argumen dan investigasi
5. Pemikiran abstrak
Para ahli teori
pembelajaran menggunakan lima definisi ini dalam
satu cara atau dengan menggunakan
cara yang lain, tapi dengan variasi yang
luas dalam penggunaannya. Dibawah
ini adalah contoh dari beberapa definisi
yang digunakan sesuai konteks.
a)
Pelaku
riset membutuhkan serangkain asumsi sebagai poin pembuka yang digunakan sebagai
pegangan pada pekerjaan yang sedang ia kerjakan, hal ini dicoba dengan
melakukan ekperimen melakukan observasi dan wawasannya. Tanpa teori, kegiatan
riset apapun akan sia-sia karena tanpa tujuan. Pengetahuan teori selalu
membantu praktek di lapangan. (Kidd,1959, hal. 134-135).
b)
Seorang
ilmuwan, dengan keinginan untuk memuaskan rasa ingin tahunya tentang fakta,
memiliki kesenangan mengaplikasikan fakta pada system hukum dan teori. Ia tidak
hanya tertarik pada fakta yang di verifikasi, tapi juga dalam menghemat
cara-cara yang digunakan untuk mengefektifkan fakta.
Mengapa praktisi
harus memperhatikan teori?
(Kidd, 1959,
hal. 134 135). Karena tanpa teori kegiatan riset apapun akan sia-sia tanpa
tujuan.
Apakah perbedaan
yang esensial antara konsep pendidikan dengan
pembelajaran ?
Pendidikan adalah suatu kegiatan yang
dilaksanakan atau diinisiatifi oleh satu atau beberapa agen dan dirancang demi
perubahan dalam ilmu pengtahuan, keahlian dan sikap dari individu, kelompok, atau
komunitas. Hal ini ditekankan pada pendidik itu sendiri, dan agen-agen perubahan
yang memberikan dorongan demi terlaksananya kegiatan pembelajaran untuk
menginduksi perubahan.
Pembelajaran ditekankan pada seseorang yang
menginginkan atau sangat mengharapakan perubahan. Pembelajaran adalah suatu
tindakan atau proses yang membutuhkan perubahan sikap, pengetahuan, dan
kemampuan (Boyd, Apps, et al., hal. 100 – 101). Pembelajaran adalah
suatu perubahan dalam diri seseorang, karena interaksi individu, dan
lingkungannya, yang memenuhi kebutuhan dan membuatnya lebih cakap dalam
berurusan dengan lingkungannya. (Buton, 1963, hal. 7). Pembelajaran adalah
proses dimana aktivitas nya dirubah melalui reaksi dalam situasi, sehingga
karakter perubahan tak bisa dijelaskan dalam tendensi respon, kedewasaan atau
fakta organisme yang bersifat sementara (sebagai contoh, kelelahan). (Hilgard
dan Bower, 1966, hal. 2)
Bloom dan asosiasinya (1956), hal 7)
mengidentifikasikan tiga
bagian
utama dalam pendidikan :
1.
Kognitif,
“ yang berhubungan dengan kognisi pengetahuan dan pengembangan intelektual dan
skill”.
2.
Afektif,
“ yang menjabarkan perubahan dalam minat, sikap, dan nilai, juga pengembangan
apresiasi dan pengaturan yang dibutuhkan”.
3.
Psikomotor.
Poin ini oleh para sarjana diperluas pada wilayah psikomotor yang mencakup
seluruh dimensi manusia.
Gagne (1972) mengidentifikasi lima bagian proses
pembelajaran,
masing
– masing memiliki sudut praxis-nya:
1.
Motor Skills, yang dikembangkan melalui
praktek.
2.
Verbal Information, merupakan
persyaratan utama bagi pembelajaran.
3.
Intellectual Skills, dimana
pembelajaan muncul dan mempersyaratkan kemampuan
4.
Cognitive strategies, dimana
pembelajaran menuntut kesempatan yang menantang.
5.
Attitudes, yang dipelajari secara efektif melalui
penggunaan model/contoh dan “ dorongan untuk mencoba”.